Masjid Kadilangu

Masjid Kadilangu Ternyata Lebih Tua dari Masjid Agung Demak image

BULAN Ramadan rasanya tidak afdol bagi sebagian masyarakat dari berbagai daerah kalau tidak berkunjung ke beberapa masjid bersejarah seperti di Kota Wali atau tepatnya di masjid Sunan Kalijaga Kadilangu yang berada di Kelurahan Kadilangu, Kabupaten Demak. Masjid itu dibuat secara pribadi dari salah-satu walisongo tokoh penyebar agama Islam di Jawa, Sunan Kalijaga. Letaknya dari Semarang sekitar 26 kilometer dan berada di Jalan Raden Fatah Sahid.

Menurut salah satu pengurus masjid, Masjid Kadilangu berdiri sejak 1534 lebih tua dibandingkan dengan Masjid Agung Demak yang didirikan pada 1578. Hal itu bisa dilihat diukiran kayu yang terletak di atas pintu utama masuk masjid yang bertuliskan Arab dengan terjemahan dalam bahasa Jawa “Punika Ngadekkipun Masjid Dina Ahad Wage Sasi Dzulhijah” bertepatan pada tahun tersebut.

Selain tergolong masjid tua, tempat ibadah itu memiliki keunikan yang lain yakni mustaka yang atapnya mirip dengan berbagai masjid lama seperti Masjid Agung Demak, Masjid Agung Kauman Semarang serta banyak lagi, atap limasan itu bersusun dua. Di kubah terpasang pengeras suara yang difungsikan untuk mengumandangkan azan agar terdengar hingga ke pelosok daerah.

Peninggalan Sunan Kalijaga

Saat masuk ke serambi masjid terdapat dua buah beduk yang berfungsi sebagai penanda masuk waktu shalat. Dari dua beduk itu salah satunya yang berada di sebelah kiri masjid merupakan peninggalan Sunan Kalijaga. Bedug bersejarah itu hingga saat ini masih kuat dan terlihat kokoh.

Setelah melihat serambi, di ruangan utama masjid terdapat saka guru atau tiang masjid yang berjumlah empat buah semuanya masih asli dan terbuat dari kayu jati. Begitu pula pintu dan jendela masjid masih utuh dari kayu jati belum diganti.

Delapan tahun lalu masjid itu dirombak, sehingga saat ini ada beberapa bangunan tambahan untuk mendukung fungsi masjid seperti tempat wudhu serta lantai di keramik putih.

Menurut Raden Suprayitno Prawiro Kusumo yang juga merupakan Keturunan Sunan Kalijaga ke 14, sewaktu Sunan Kalijaga masih hidup, Masjid Kadilangu itu masih berupa surau kecil. Setelah Sunan Kalijaga wafat dan digantikan oleh putranya yang bernama Sunan Hadi (putra ketiga) surau tersebut disempurnakan bangunannya sehingga menjadi masjid seperti yang kita lihat sekarang ini.

Setiap kali menyambut bulan ramadan, Masjid Sunan Kalijaga juga menyelengarakan acara ramadan seperti pengajian sesudah sholat Subuh, Dzuhur, dan Ashar. Sedangkan sesudah sholat Magrib diadakan takjilan atau menu untuk buka puasa bersama. Takjilan ini biasanya sumbangan dari masyarakat sekitar masjid, yang sudah ditentukan jadwalnya secara bergiilr. Selain itu ada tadarusan setelah sholat Isya dan Tarawih.

Ketika Bulan Ramadhan kebanyakan yang menyemarakkan masjid tersebut hanya warga sekitar, sedangkan pengunjung dari luar sedikit tidak seperti bulan biasa. Tidak jauh dari masjid terdapat makam Sunan Kalijaga yang banyak dikunjungi saat sebelum puasa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: